Kucing yang Masuk Lewat Jendela_Eiffah E Umami

Karya Ilmiah

Kucing yang Masuk Lewat Jendela

Eiffah E Umami

     Sementara menunggu waktu sholat isya, aku duduk di beranda musala, menghadap barat. Santri lain masih khusyuk dengan wiridnya masing-masing, sementara mataku sudah sedari tadi tak dapat diajak kompromi. Ditambah lampu di beranda musala yang aku tak tahu sejak kapan mati, membuat beranda musala sedikit remang, suasana yang teramat pas untuk tidur.
Aku masih berusaha mengusir kantuk, saat kemudian ada seekor kucing melintas di sebelah kiriku. Sontak aku memerhatikannya.
Tatapan mataku terus mengikuti ke arah mana seekor kucing itu berjalan. Memerhatikan gerak matanya yang seperti pencuri. Apalagi dengan sekerat ikan di gigitan mulutnya. Tidak salah lagi ia pasti mengambil ikan dari dapur dhalem yang terletak di sebelah kanan musala. Aku bukan mau berburuk sangka, hanya saja ikan yang berada di mulut kucing itu mirip ikan yang aku masak tadi sore. Lagi pula, ia tak mungkin sampai mengambil milik tetangga kalau ada tempat yang lebih dekat.
Aku bahkan sampai berbalik, menghadap timur, hanya untuk tahu ke mana tujuan kucing itu. Kalau kamu ingin tahu alasan mengapa aku teramat penasaran, aku tak dapat menuliskannya di cerita ini, sebab aku memang tak punya alasan apa pun. Santri lain heran melihatku seperti itu, bahkan ada yang berucap, “Toh, kucing itu bukan siapa-siapamu,” sambil terkikik pelan. Aku hanya melengos menanggapi itu, tidak peduli.
Sebab amat penasaran, aku melangkah mengikuti kucing itu yang sekarang mulai memasuki beranda bangunan tua di sebelah kanan depan musala. Aku memerhatikan bangunan tua ini untuk sejenak. Kuduga ini gudang, sebab dapat kulihat barang-barang yang sudah rusak dari pintunya yang sedikit terbuka. Jendelanya hampir semuanya pecah, menyisakan kaca-kaca tajam di kosennya. Jangan tanyakan kotornya, debunya saja kuperkirakan setebal satu sentimeter, belum lagi sarang laba-labanya yang menggantung di sana-sini. Kalau saja manusia, sudah kutanyakan sebab-musabab kucing itu pergi ke tempat seperti ini. Namun karena ia kucing, tanyaku hanya dapat disimpan dalam pikiran.
Selagi pikiranku melantur kesana-kemari, aku dikejutkan oleh si kucing tadi yang tiba-tiba melompat masuk ke dalam ruangan gudang. Ia masuk lewat jendela. Alhasil, kakinya tersangkut salah satu pecahan kaca yang melekat pada kosen. Aku segera mendekat ke sisi jendela gudang, hendak membantu. Namun belum sempat menyentuhnya, kaki itu sudah terlepas dari kaca, dan si kucing segera masuk. Sebab penasaran, segera kupegang kenop pintu, hendak mengikutinya ke dalam gudang. Namun urung, azan isya mulai berkumandang.

***

Masih sama seperti sebelumnya—sementara menunggu waktu sholat isya, aku duduk di beranda musala, menghadap barat. Namun kali ini, aku tidak mengantuk. Lampu di beranda musala juga sudah diganti baru. Tambahan lagi, kali ini pikiranku masih seputar kucing yang kemarin. Mataku semakin awas memandangi sekitar. Siapa tahu kucing itu lewat lagi.
Ah, sepertinya rasa penasaranku semakin menjadi-jadi.
Dan benar saja, tak lama dari itu, seekor kucing itu, kucing yang sama, kembali melintas di sisi kiriku, lagi-lagi dengan sekerat ikan di mulutnya. Dengan penerangan yang cukup seperti ini, aku jadi dapat melihat jelas kalau ternyata kucing itu punya banyak bekas luka di sekujur tubuhnya. Namun itu tidak terlalu jelas, sebab tertutup bulunya yang kecoklatan dan cukup tebal.
Seperti sebelumnya, kucing itu pun kembali masuk ke ruangan sebelah depan agak ke kanan musala—gudang. Lagi-lagi masuk melalui jendela yang sama. Kakinya pun kembali tersangkut pecahan kaca yang masih tertancap di kosen. Namun kali ini aku membiarkan itu. Ia mengeong pelan, mungkin sebab sakit di salah satu bagian kakinya. Saat ia berhasil masuk ke dalam, aku perlahan mendekat ke gudang dan melongok lewat pintu. Gelap sama sekali. Aku tak dapat melihat dengan jelas, namun aku masih dapat mendengar kucing itu mengeong.
Sepertinya tidak hanya seekor kucing dalam ruangan ini. Aku mendengar suara kucing lain, yang lebih terdengar seperti rintihan, sedang mengeong yang terkesan merintih. Belum sempat aku masuk lebih ke dalam, seseorang menepuk pundakku dengan keras. Aku hampir saja terjengkal saking kagetnya.
“Apa?” tanyaku.
“Sudah azan,” katanya lalu beranjak pergi.
Aku menggaruk kepala yang tak sama sekali gatal, membenarkan apa yang temanku katakan, bahwa memang sudah azan. Astaga, mengapa aku tidak mendengar azan?

***

“Kardus ini tolong kamu bawa ke gudang sebelah,” kata perempuan di hadapanku sambil menyerahkan kardus yang dipegangnya.
Menatap gudang di depanku ini, aku jadi teringat kembali pada kucing itu. Aku menggeleng keras, berkata pada diriku, “Aku sudah melupakannya,” lalu beranjak masuk, melepaskan segala bentuk penasaran.
Bau apak langsung tercium ketika aku membuka pintu.
Setelah meletakkan kardus yang kubawa, aku pun hendak keluar, namun urung ketika pandanganku tersangkut sesuatu di sudut ruangan. Seekor kucing berbulu putih terkapar amat mengenaskan. Aku segera mendekati. Seluruh kakinya terikat, dan tubuhnya penuh borok yang telah membusuk. Di sekitarnya banyak tulang ikan yang dikerubung semut.
Aku segera melengos ketika mendengar seekor kucing mengeong dari arah yang lain, dan kulihat kucing berbulu cokelat dengan banyak bekas luka di tubuhnya, dengan sekerat ikan di gigitan mulutnya, hendak masuk lewat jendela, kucing yang kemarin itu lagi.
Lagi, dari sini kuliaht, kakinya tersangkut pecahan kaca dan ia mengeong.

Karangcempaka, 18 Desember 2018 nuriska.id

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *