Memaknai Eksistensi, Elaktibilitas dan Inovasi Pondok Transit Nurul Islam

Artikel Karya Ilmiah
Oleh : Moh. Aristo Sadewa

Nuriska.ID – Setelah kurang lebih 2 tahun berjalan, “Pondok Transit” sebutan di Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka Bluto Sumenep terus mengalami dinamika dan inovasi. Awal berdiri keberadaannnya hanya untuk dikhususkan kepada santri cilik putri yang usianya sekitar 5-9 tahun. Namun, banyaknya respon positif dari wali santri dan meningkatnya peminat untuk menjadi bagian dari keluarga Lembaga Pendidikan Al-Qur’an. Maka, pada saat ini Pondok Transit juga dibuka bagi santri cilik putra, nantinya mereka akan diantar pulang bagi yang se jalur baik putra dan putri. Bahkan untuk menjaga eksistensi dan elaktabilitas Pondok Transit dibentuk tata kelola yang diketuai Ny. Roziana Amalia.

Dalam pelaksanaannya, aktifitas Pondok Transit dimulai setelah santri cilik baik yang tingkatan TK atau MI selesai belajar di sekolah. Mereka tidak pulang ke rumahnya melainkan pulang ke pondok dengan disuguhkan pelbagai aktifitas. Mulai dari shalat berjamaah, murajaah, makan siang, dll. Di setiap aktifitasnya mereka akan ditemani wali asuh yang akan memantau mereka. Setelah memasuki waktu belajar LPQ, barulah mereka akan berbondong berangkat belajar.

Kegitan demikian dilakukan sebagai bentuk upaya penanaman karakter kepada santri, yang mana usia seperti santri cilik ini merupakan Golden Age bagi mereka dan kesempatan besar bagi orang tua atau tenaga pendidik dalam memberikan banyak hal, mengingat pada fase ini anak mengalami perkembangan yang sangat pesat, utamanya akhlak yang sering digaungkan sebagai tonggak utamanya seorang insan dan pembelajar.

Untuk memberikan hal yang baik untuk anaknya, maka orang tua perlu menerapkan kedisiplinan. Contohnya membatasi anak dari Gadget dengan mengikuti pondok transit, yang mana perilaku tersebut merupakan juga termasuk tujuan dari berdirinya pondok transit nurul islam. Karena bila mana hanya dilakukan dengan teguran, pengambilan Gadget dirasa kurang maksimal.

Keberadaan Pondok Transit tentunya sangat memberikan sesuatu yang begitu besar bagi anak. Sebagaimana yang disampaikan Imam Al-Ghazali bahwa suatu pendidikan ialah bagaimana mewariskan nilai-nilai budaya masyarakat kepada setiap individu agar kehidupan budaya dapat hidup dan terasa ditengah kehidupan setiap waktu. Ditambah lagi dalam mendidik mereka harus dilalui secara bertahap.

Santri-santri ini akan mempelajari budaya dan pasti mempunyai pengalaman yang nantinya mereka tidak akan kaget dengan budaya pesantren. Tentunya mereka akan lebih mudah beradaptasi ketika mereka hendak melanjutkan pendidikannya di pesantren.

Selain mendapatkan pembelajaran budaya, mereka juga terhindar dari penggunaan Gadget yang berlebihan. Sehingga hal tersebut bisa mengurangi kecanduan anak kecil terhadap Gadget. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa Gadget menjadi momok berbahaya tersendiri bagi anak ketika tidak ada filter positif dari pelbagai pihak.

Santri cilik tersebut juga akan mendapatkan pembelajaran mengenai cara dan etika bersosial atau berteman. Seperti kegiatan sehari-hari dilakukan secara bersama-sama, sehingga tanpa disadari mereka akan memiliki gambaran mengenai bagaimana cara ia bersosial.

Selain bagi santri cilik, keberadaan pondok transit bermanfaat juga bagi wali asuh. Mereka (red:wali asuh) yang bertugas menemani, mengawasi, mengajari, dll, santri cilik dalam segala aktifitasnya di pondok bahkan sampai berangkat dan sepulangnya dari pembelajaran di LPQ. Waktu tersebut haruslah dijadikan sebuah pembelajaran bagi wali asuh supaya mempunyai bekal untuk kelanjutan hidup di masyarakat.

Di samping itu, sebagai wujud untuk menjaga eksistensi pondok, Pondok Transit melakukan sebuah Inovasi dengan memberikan wadah bagi santri cilik untuk berkreasi. Mereka difasilitasi dengan diadakannya kegiatan Mualid Nabi Muhammad SAW dan Milad Pondok Transit ke-1. Santri cilik mengisi kegiatan tersebut dengan berbagai macam penampilan yang disaksikan oleh teman-temannya, pengasuh serta orang tuanya. Suatu kebanggaan bagi orang tua melihat anaknya tampil di panggung acara bahkan dinobatkan sebagai santri cilik terajin dan teraktif.

Tentunya keberadaan pondok transit sangatlah menguntungkan bagi kebutuhan anak kecil hari ini karena kegiatan yang ada di pondok transit sangatlah positif sekali. Bagi Pondok Pesantren Nurul Islam tentunya hal tersebut jangan sampai stagnan seperti saat ini saja melainkan perlu yang namanya suatu inovasi dan kreasi supaya keberadaan pondok transit dinamis setiap tahunnya.

Editor: Noviyah Trinandani

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *