Pondok Pesantren Nurul Islam dan Psikologi UTM Kolaborasi Cegah Bullying, Perkuat Peran Pengurus

Berita

SUMENEP, nuriska.id — Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka, Bluto, Sumenep, berkolaborasi dengan Program Studi Psikologi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dalam memperkuat upaya pencegahan bullying di lingkungan pesantren. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Aula LPQ Nuriska, Kamis (10/9/2026).

Bertajuk “Bersama Mencegah Bullying di Pesantren: Penguatan Peran Pengurus Menuju Pesantren Bebas Bullying,” kegiatan tersebut menjadi ruang bertemunya kebutuhan pesantren akan penguatan kapasitas pengurus dengan peran akademisi dalam mengimplementasikan keilmuan psikologi secara nyata di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan ini, pengurus Pondok Pesantren Nurul Islam mendapatkan pembekalan mengenai pencegahan dan penanganan bullying, sekaligus didorong untuk semakin peka terhadap kondisi sosial dan psikologis santri. Di sisi lain, keterlibatan dosen Program Studi Psikologi UTM menjadi bagian dari kontribusi akademik dalam memberikan pendampingan dan penguatan berbasis keilmuan bagi lingkungan pesantren.

Kegiatan tersebut menghadirkan dosen Program Studi Psikologi UTM, Ahmad Najibullah, S.Psi., M.Psi. dan Faqihul Muqoddam, S.Psi., M.Si., sebagai pemateri, serta Masrifah, S.Psi., M.Si., sebagai moderator.

Materi yang diberikan menekankan pentingnya membangun interaksi yang sehat, mengenali potensi bullying sejak dini, serta menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan saling menghargai. Pengurus diharapkan tidak hanya memahami persoalan bullying, tetapi juga mampu mengambil langkah yang tepat ketika menghadapi persoalan di lingkungan pesantren.

Dari pihak Pondok Pesantren Nurul Islam, Ny. Roziana Amalia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, pembekalan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran dan gerak bersama dalam menciptakan lingkungan pesantren yang lebih aman, nyaman, dan penuh kepedulian.

Ia berharap semangat yang terbangun melalui kegiatan tersebut dapat menjadi energi positif bagi pengurus untuk terus bergerak, peduli, dan hadir dalam mendampingi santri.

“Saya berharap materi yang disampaikan tidak hanya dipelajari, tetapi juga diterapkan di pondok,” terangnya.

Ia juga mendorong pengurus agar berani mengambil peran dalam membangun budaya pesantren yang saling menghargai dan menjunjung tinggi akhlak.

“Kami berharap pengurus dapat menjadi garda terdepan sekaligus pelopor gerakan antiperundungan,” pesannya.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa upaya menciptakan pesantren bebas bullying membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pesantren memiliki kebutuhan untuk terus memperkuat kapasitas pengurus, sementara perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan keilmuan dan pengabdian yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sinergi Pondok Pesantren Nurul Islam dan Program Studi Psikologi UTM diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi berkembang menjadi langkah berkelanjutan dalam membangun budaya pesantren yang mengedepankan akhlak, kepedulian, saling menghormati, dan keberanian untuk saling menjaga.

Dengan pengurus sebagai salah satu motor penggeraknya, lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying diharapkan semakin kuat, sehingga santri dapat belajar, berproses, dan berkembang secara optimal.

Reporter :Moh. Aristo Sadewa | Editor :A. Rafik
Bagikan