Sumenep, Nuriska.ID — Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQNIS) Karangcempaka, Bluto, Sumenep, menggelar Stadium General dan Bedah Buku dengan tema “Kritik Teks dan Historisitas Tafsir: Peluang, Tantangan, dan Relevansinya dalam Konteks Kekinian,” Kamis (10/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula NURISKA STIQNIS tersebut menghadirkan Dr. H. Farid Fachruddin Saenong, M.A., Ph.D., penulis buku Kritik Teks & Historisitas Tafsir, sebagai narasumber utama. Ia yang akrab disapa Farid Saenong juga dipercaya sebagai Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia bidang Pendidikan, Organisasi Kemasyarakatan, dan Moderasi Beragama.
Hadir sebagai pembahas, Dr. Ah. Fawaid, M.A., Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Madura, memberikan ulasan serta perspektif akademik terhadap materi yang dikaji. Sementara itu, diskusi dipandu Abd. Sukkur Rahman, S.Th.I., M.H.I., Ketua Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) STIQNIS, yang mengatur alur pembahasan dan memfasilitasi dialog dengan peserta.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri atas mahasiswa dan dosen STIQNIS serta guru di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Islam. Melalui forum ini, peserta diajak mendalami kritik teks dan historisitas tafsir dengan melihat perkembangan penafsiran Al-Qur’an, konteks sejarah, serta relevansinya dengan kehidupan masyarakat kontemporer.
Pembahasan dalam forum tersebut menjadi ruang akademik untuk memperluas wawasan peserta sekaligus mendorong tradisi membaca dan mengkaji khazanah tafsir secara lebih kritis dan kontekstual.
Dalam sambutannya, Ketua STIQNIS Karangcempaka, Mujahid Anshori, M.Pd., menegaskan pentingnya Stadium General dan Bedah Buku sebagai ruang penguatan wawasan dan pemikiran mahasiswa.
“Mahasiswa tidak cukup hanya membaca, tetapi juga perlu memahami, mendiskusikan, dan mengkritisi gagasan yang dibaca. Karena itu, kegiatan seperti ini penting untuk membangun keberanian berpikir dan menyampaikan pandangan secara akademik,” tegas Mujahid Anshori.
Menurutnya, kehadiran akademisi dan praktisi menjadi bagian penting dalam memperluas perspektif mahasiswa. Interaksi tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya budaya intelektual yang dinamis serta memperkuat tradisi literasi di lingkungan STIQNIS.
“Kami berharap ruang-ruang akademik seperti ini terus berkembang. STIQNIS harus menjadi tempat tumbuhnya mahasiswa yang gemar membaca, terbuka terhadap gagasan, dan mampu memberikan kontribusi pemikiran di tengah masyarakat,” jelasnya.
Mengusung semangat “Membaca Ulang Tafsir, Merawat Masa Depan,” kegiatan tersebut diharapkan mampu membuka perspektif baru bagi mahasiswa dan sivitas akademika dalam memahami kajian Al-Qur’an serta relevansinya dengan berbagai persoalan kehidupan masyarakat kontemporer. Melalui forum ini, STIQNIS Karangcempaka terus mendorong tumbuhnya tradisi akademik yang kritis, reflektif, dan kontekstual sebagai bagian dari upaya membangun budaya keilmuan di lingkungan kampus.
