SUMENEP (Nuriska.ID) – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Tim Peneliti NURISC (Nurul Islam Research and Science Community) MA Nurul Islam Karangcempaka, Bluto, Kabupaten Sumenep. Melalui penelitian ilmiah bertajuk “Implementasi Pendekatan In Silico dan Analisis Sitotoksik dalam Eksplorasi Senyawa Bioaktif Sambiloto (Andrographis paniculata) sebagai Agen Terapi Kanker Payudara Estrogen Receptor Positive (ER+)”, tim berhasil mengidentifikasi potensi senyawa aktif tanaman sambiloto sebagai kandidat terapi kanker payudara.
Penelitian tersebut dilakukan oleh dua siswi, Nubdhatun Nafisah dan Aulidia Shifa Irtiah, di bawah bimbingan Radita Intan Aisyah Pratiwi, M.Si. Proses penelitian juga mendapat pendampingan dari Ketua NURISC MA Nurul Islam, Faiz Hamdan, sebagai bagian dari upaya menumbuhkan budaya riset di lingkungan madrasah.
Dalam penelitian itu, tim memanfaatkan pendekatan in silico melalui metode molecular docking yang dipadukan dengan uji sitotoksik untuk mengevaluasi kemampuan senyawa bioaktif sambiloto dalam menghambat pertumbuhan sel kanker payudara tipe Estrogen Receptor Positive (ER+).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak sambiloto memiliki aktivitas sitotoksik yang tergolong kuat terhadap sel kanker MCF-7 dengan nilai IC₅₀ sebesar 40,47 µg/mL. Analisis molecular docking juga memperlihatkan bahwa senyawa utama, seperti andrographolide beserta turunannya, mampu berinteraksi dengan protein target estrogen receptor alpha (ERα) dan jalur PI3K/AKT/mTOR yang diketahui berperan dalam proses proliferasi sel kanker.
Pembimbing penelitian, Radita Intan Aisyah Pratiwi, M.Si., mengatakan, hasil tersebut menjadi langkah awal yang menjanjikan dalam pengembangan penelitian tanaman obat Indonesia berbasis pendekatan ilmiah modern.
“Sambiloto merupakan tanaman herbal yang telah lama dikenal masyarakat. Melalui pendekatan ilmiah modern, kami dapat menunjukkan bahwa senyawa aktif di dalamnya memiliki potensi sebagai kandidat agen antikanker. Namun, temuan ini masih merupakan penelitian awal sehingga diperlukan penelitian lanjutan, termasuk uji praklinis dan klinis, sebelum dapat diaplikasikan sebagai terapi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua NURISC MA Nurul Islam, Faiz Hamdan, menilai, capaian tersebut menjadi bukti bahwa peserta didik madrasah mampu menghasilkan penelitian yang kompetitif sekaligus relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
“Kami ingin menanamkan keyakinan bahwa siswa madrasah tidak hanya mampu memahami teori, tetapi juga mampu menghasilkan karya ilmiah yang memberi kontribusi bagi masyarakat. Prestasi ini menunjukkan bahwa madrasah juga dapat melahirkan peneliti muda yang berkualitas,” katanya.
Portal Pendaftaran Santri Baru 2026 psb.nuriska.id
Apresiasi juga disampaikan Kepala MA Nurul Islam, Mathlub Anshori. Menurutnya, keberhasilan tim NURISC menjadi bukti bahwa madrasah mampu menjadi ruang berkembangnya inovasi dan budaya penelitian.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa madrasah bukan hanya tempat memperdalam ilmu agama dan akademik, tetapi juga wadah melahirkan inovasi yang bermanfaat. Kami berharap semangat meneliti terus tumbuh sehingga menjadi budaya di lingkungan MA Nurul Islam,” tuturnya.
Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan mengenai pemanfaatan tanaman obat lokal Indonesia sebagai sumber kandidat obat antikanker yang lebih aman, terjangkau, dan mudah diperoleh. Selain itu, capaian tersebut juga memperlihatkan bahwa inovasi dan budaya ilmiah dapat berkembang di lingkungan pendidikan menengah.
Melalui NURISC, MA Nurul Islam berkomitmen membangun ekosistem riset yang mendorong peserta didik berpikir kritis, kreatif, dan solutif. Keberhasilan ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk terus mengembangkan penelitian dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta kemajuan bangsa. ***
