Workshop dan Pemutaran film Sarung “santri untuk negeri”

Berita

Sumenep,(nuriska.id) – Santri Untuk Negeri (Sarung), salah satu film berlatar belakang kehidupan santri dengan berbagai kisah dan kenangan yang tentu membawa kita sekedar mengingat bagaimana meraih cita bahkan pelanggaran yang kerap dilakukan.

Film ini berkisah tentang kang Huda, santri yang sejak kecil bercita-cita menjadi guru ngaji. Kemudian nyantri di salah satu pesantren sehingga berhasil membimbing santri yang ada di pesantren tersebut.

Film tersebut semakin asik karena ada kisah asmara ala pesantren yang ketika kita tonton seakan masuk banget ke dunia kita.

Sehubung dengan pemutaran film di berbagai pesantren terkhusus Jawa Timur, pondok pesantren Nurul Islam, mendatangkan crew dan mengadakan nonton bareng pada Senin malam (15/2) sekitar pukul 19.00 wib.

Kegiatan nonton bareng (Nobar) ini merupakan salah satu agenda KKN pos 1 mahasiswa stqinis, yang diletakkan di halaman sekolah MA putri Nurul Islam. Terlaksananya acara ini bekerjasama dengan Mahasiswa BEM Stiqnis.

Selaku sutradara, mas Grantika Pujianto mengatakan, bahwa film ini dibuat real kehidupan pondok dan murni biaya pribadi tanpa sponsor.
“Dan 90% pembuatan filmnya dilakukan di kota Blitar selebihnya di luar kota” ujarnya.

Pantauan nuriska.id, terlihat aura santri antusias menyimak alur cerita film sarung tersebut.

“Sangat senang diberikan kesempatan nonton film sarung yang isinya ‘santri banget’ “, ujar Wulan salah satu santri putri Nurul Islam.

Senada disampaikan oleh Ning Roziana Amalia Ilyas (Ning Ana), dosen pembimbing lapangan KKN Stiqnis, sekaligus pengasuh santri putri. Ia mempunyai harapan, dengan menonton film tersebut anak-anak mendapatkan hiburan yang bermanfaat di tengah penat dan padatnya jadwal belajar di pesantren.
“Santri diharapkan bisa mengambil sisi baik yg ada di film serta membuang sisi buruknya karena film adalah gambaran kehidupan sehari-hari yang tidak luput dari sisi baik dan buruk”, imbuhnya.

Usai pemutaran film, para crew film sarung membedahnya bersama santri dilanjutkan pelatihan dan workshop untuk tim Nuriska Official Media, fokus pada teknik pengambilan gambar dan editing profesional.

Pada akhir acara Selain dari menonton, crew film sarung memberikan door prize berupa kaos kepada santri yang bisa menjawab beberapa pertanyaan. Lagi-lagi para santri sangat antusias.

Kegiatan yang dimotori pengurus BEM Stiqnis dihadiri langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, KH. Ilyas Siraj dan wali asuh.

Sebelum acara diakhiri, para santri mengadakan tahlil dan doa bersama dikhususkan kepada Masyayikh serta 3 crew film yang telah meninggal dunia. (nop/fik)

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *