Di sebuah rumah sederhana di pinggir desa, suara televisi terdengar pelan menyiarkan upacara Hari Kebangkitan Nasional. Bendera merah putih berkibar di layar, sementara Dimas Billy duduk di meja makan dengan wajah murung. Buku matematikanya terbuka, tetapi pensil di tangannya hanya bergerak membuat coretan tak beraturan.
“Ayah pasti marah lagi kalau nilaiku jelek,” gumamnya pelan.
Di dapur, ibunya, Bu Rifa, mendengar ucapan itu. Ia menoleh sejenak, lalu mematikan kompor dan berjalan menghampiri anaknya.
“Memangnya kenapa?” tanyanya lembut.
Dimas Billy menunduk. “Aku sudah belajar, tapi tetap susah. Kalau salah terus, buat apa mencoba?”.
Bu Rifa duduk di sampingnya. Ia tidak langsung memarahi atau memaksa Dimas Billy kembali belajar. Ia hanya memperhatikan wajah anaknya yang terlihat takut.
Sejak kecil, Dimas Billy memang terbiasa takut membuat kesalahan. Ayahnya, Pak Aril, dikenal tegas. Baginya, anak harus disiplin dan selalu mendapat hasil terbaik. Jika nilai Dimas Billy turun, suara ayahnya sering terdengar keras di rumah.
Malam itu, setelah makan malam, Pak Aril pulang kerja. Ia melihat buku latihan Dimas Billy di meja.
“Kenapa banyak yang salah begini?” tanyanya dengan nada tinggi.
Dimas Billy langsung menunduk gemetar.
Namun sebelum suasana berubah tegang, Bu Rifa berbicara pelan, “Pak, boleh saya bicara sebentar?”
Pak Aril menghela napas lalu duduk.
Bu Rifa menatap suaminya dengan tenang. “Hari ini Hari Kebangkitan Nasional. Kita selalu bicara tentang membangun bangsa. Tapi bagaimana anak mau tumbuh kuat kalau setiap salah dia hanya merasa takut?”
Pak Aril terdiam.
“Dimas Billy bukan tidak mau belajar,” lanjut Bu Rifa. “Dia hanya takut gagal.”
Ruangan menjadi sunyi. Pak Aril memandang anaknya yang sejak tadi tidak berani mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ketegasannya selama ini justru membuat anaknya kehilangan keberanian.
Ayahnya teringat masa kecilnya sendiri. Dulu ia juga sering dimarahi ketika gagal. Ia tumbuh menjadi pekerja keras, tetapi selalu takut mencoba hal baru. Tanpa sadar, ia melakukan hal yang sama kepada anaknya.
Pak Aril menarik kursi dan duduk di dekat Dimas Billy.
“Bagian mana yang sulit?” tanyanya kali ini dengan suara lebih lembut.
Dimas Billy perlahan mengangkat kepala, seolah tidak percaya mendengar nada bicara ayahnya.
“Ini… aku tidak paham caranya,” jawabnya lirih.
Pak Aril mengambil pensil dan mulai membantu. Tidak ada bentakan malam itu. Tidak ada kemarahan. Hanya percakapan sederhana antara ayah dan anak.
Sesekali Dimas Billy masih salah menghitung, tetapi ayahnya tidak lagi memukul meja atau meninggikan suara. Ia justru berkata, “Kalau salah, kita coba lagi.”
Kalimat sederhana itu terasa berbeda bagi Dimas Billy. Dadanya yang sejak tadi sesak perlahan terasa lega.
Hari-hari berikutnya suasana rumah mulai berubah. Pak Aril masih tegas, tetapi ia belajar mendengarkan. Ia mulai bertanya tentang perasaan anaknya, bukan hanya nilai sekolahnya. Dimas Billy pun perlahan menjadi lebih percaya diri. Ia mulai berani bertanya, mencoba, bahkan bercerita tentang cita-citanya.
Suatu sore, setelah upacara sekolah memperingati Hari Kebangkitan Nasional, Dimas Billy pulang sambil tersenyum.
“Ayah,” katanya antusias, “tadi guru bilang kebangkitan bangsa dimulai dari generasi muda yang berani bermimpi.”
Pak Aril tersenyum kecil. Ia mengusap kepala anaknya.
“Dan keberanian itu,” katanya pelan, “dimulai dari rumah.”
Angin sore berhembus pelan melewati halaman rumah mereka. Di bawah langit yang mulai jingga, Pak Aril akhirnya mengerti bahwa mendidik bukan tentang membuat anak selalu benar, melainkan menemani mereka belajar bangkit setiap kali melakukan kesalahan.
- Karya : Ainur Rijal | 20 Mei 2026
